Mengapa Sokrates Membenci Demokrasi: Perspektif Filsafat Yunani Kuno
Admin Raksabumi, 07 November 2023
Demokrasi telah menjadi salah satu konsep yang sangat dihargai dalam masyarakat modern, dengan Athena kuno yang seringkali dianggap sebagai tempat kelahirannya.
Namun, dalam pandangan filsafat Yunani kuno, terdapat ketidakpercayaan dan bahkan penolakan terhadap demokrasi.
Salah satu tokoh utama dalam filsafat Yunani, Sokrates, adalah yang paling skeptis terhadap sistem demokrasi pada zamannya.
Mari kita menjelajahi pandangan Sokrates tentang demokrasi yang diungkapkan dalam "The Republic" karya Plato.
Dalam "The Republic," Sokrates berbicara dengan seorang karakter bernama Adeimantus, dan ia mencoba menggambarkan kelemahan demokrasi dengan perbandingan yang kuat.
Socrates mengajukan pertanyaan: “Siapakah orang yang ideal untuk memimpin sebuah kapal jika Anda berada di dalamnya?
Adeimantus menjawab bahwa seseorang yang terlatih untuk menangani peraturan dan seluk-beluk perjalanan laut akan lebih cocok daripada siapa pun untuk memimpin kapal.
Socrates kemudian menantang gagasan ini: “Lantas mengapa kita terus berpikir bahwa setiap orang, siapa pun, dapat menilai siapa yang harus memimpin suatu negara?
Socrates berpendapat bahwa memilih dalam pemilihan umum bukanlah suatu intuisi acak melainkan suatu keterampilan yang harus diajarkan kepada masyarakat secara sistematis.
Dia menggambarkan bahwa membiarkan orang memilih tanpa pendidikan sama tidak bertanggung jawabnya dengan membiarkan mereka memimpin kapal perang di tengah badai tanpa pengetahuan yang memadai.
Socrates sendiri mengalami akibat tragis dari kebodohan pemilihnya ketika dia diadili pada tahun 399 SM dan dijatuhi hukuman mati oleh juri yang terdiri dari 500 orang Athena.
Namun, penting untuk diingat bahwa Socrates tidak mengusulkan elitisme yang membatasi hak suara hanya pada segelintir orang.
Lebih lanjut ia menegaskan, hanya mereka yang berpikir rasional dan mendalam terhadap isu politik yang berhak memilih.
Hal ini membuat perbedaan antara demokrasi intelektual, dimana para pemilihnya terdidik dan tercerahkan, dan demokrasi sebagai hak yang diberikan kepada semua orang tanpa pertimbangan lebih lanjut.
Socrates juga mengakui risiko besar demokrasi tanpa pendidikan.
Ia memberi peringatan tentang bahaya yang ditimbulkan para demagog, yang mempunyai lidah yang cerdas dan dapat mengeksploitasi keinginan masyarakat untuk mendapatkan solusi yang mudah.
Socrates meminta kita membayangkan debat pemilu antara dua kandidat, yang satu seperti seorang dokter yang meresepkan pengobatan yang sulit namun bermanfaat, dan yang lainnya seperti penjual permen yang menjanjikan kepuasan instan.
Penjual permen akan dengan cerdik memenangkan suara dengan mengkritik dokter atas perlakuan kasarnya tanpa memikirkan keuntungan jangka panjang.
Hal ini menimbulkan kebingungan di kalangan pemilih, yang seringkali lebih memilih solusi segera daripada pengobatan yang benar-benar bermanfaat.
Socrates memperingatkan kita bahwa demokrasi yang berfungsi dengan baik harus didasarkan pada pemilu yang sehat di mana pemilih mendapat informasi lengkap tentang isu-isu politik.
Namun di era modern, kita sering melupakan peringatan dan pandangan Socrates.
Kita sering menganggap demokrasi sebagai suatu kebajikan yang tidak memerlukan pemahaman mendalam tentang isu-isu politik.
Akibatnya, kita sering memilih pemimpin berdasarkan popularitasnya, bukan berdasarkan kebijaksanaannya, sehingga bisa menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan.
Oleh karena itu, penting untuk mengkaji kembali pandangan filsafat Yunani kuno, khususnya Socrates, tentang demokrasi yang menekankan pentingnya pendidikan politik dan pemilu yang bijaksana untuk menjamin kelangsungan sistem demokrasi yang efektif.
Pesan yang ingin disampaikan Socrates adalah bahwa demokrasi yang sukses memerlukan pemilih yang berpendidikan dan rasional, bukan hanya hak yang diberikan secara cuma-cuma.
Dengan memahami perspektif ini, kita bisa lebih berhati-hati dalam memilih pemimpin dan menjamin masa depan demokrasi yang lebih cerdas dan efektif.